Puasa,
Korupsi dan pengawasan ilahiah
Oleh
: Arwani, M.Pd.I
Bangsa
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Negara Indonesia jugas secara
tegas menyatakan diri sebagai negara yang berkebutuhan. Namun ada sesuatu yang
aparadoks. Bangsa yang religius itu ternyata juga bangsa yang sangat korup.
Laporan Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup Nomor tiga di
dunia. Korupsi di Indonesia bahkan telah menjadi budaya yang telah berurat akar
dalam kehidupan masyarakat. Korupsi telah menjalar masuk keberbagai aspek kehidupan.
Dilembaga lembaga seperti madrasah atau masjid, korupsi bukanlah sesuatu yang
tidak mungkin ada.
Tekad
pemerintahan Gus Dur (Presiden Abdurrohman Wahid-red) untuk memberantas
korupsi, baik di pemerintahan yang dipimpinya maupun di dalam masyarakat,
adalah suatu keharusan sejarah. Selama ini martabat bangsa Indonesia turun di
mata pergaulan dunia, karena dalam konteks pradaban Modern, korupsi merupakan
sesuatau yang “ menjijikkan”.
Akibatnya,
bangsa asing tidak menaruh kepercayaan terhadap Indonesia,. Hal ini terbukti
dengan keenggana para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, yang diantaranya
karena kasus korupsi yang sudah akut. Selain itu, korupsi telah
menyebabkankebocoran anggaran negara sebesar 30%. Jumlah itu cukup signifikan
bila digunakan untuk menyejahterakan rakyat.
Sebagai
bangsa religius, agama (religion) merupakan aspek yang penting dalam
kehidupan. Agama menjadi landasan Moral dan perilaku. Karenanya, aspek agama
tidak bisa ditinggalkan dalam upaya pemberantasan korupsi. Adanya paradoks yang
terjadi selama ini, mengharuskan kita untuk merefleksikan kembali pemaknaan dan
pengamalan agama.
Hakikat
Puasa
Puasa
akan kita jalani pada bulan Ramadhan ini adalah salah satu fundamen (rukun)
ajaran agama. Sebagai fundamen Islam, maka puasa mempunyai nilai yang cukup
tinggi dalam upaya membangun moralitas dan prilaku muslim. Puasa seharusnya
mampu meningkatkan kualitas moral dan prilaku muslim menjadi lebih baik dan
mendekati tingkat yang diidealisasikan.
Dibanding
ritual ibadah yang lain, puasa mempunyai suatu keunikan. Keunikan puasa
tercermin dalam sebuah Hadis Qudsi, Ketika Allah berfirman, “ Puasa adalah
untuk-Ku, dan Akulah yang menanggung Pahalanya.” Berbeda dengan Ibadah yang
lain, seperti salat maupun berhaji, puasa lebih merupakan ibadah yang personal
dan privat. Puasa tidak memberi kesempatan orang lain untuk melihat,
mengetahui dan menilainya. Puasa hanya melibatkan antara pelaku dan Allah saja.
Pelaku sendiri yang mengetahui apakah ia berpuasa atau tidak. Apakah ia buka
ditengah jalan atau melanjutkan samapi waktu berbuka yang diperbolehkan.
Pertanggungjawaban hanya ia lakukan langsung kepada Allah. Karenanya, puasa
hanya diserukan kepada orang yang beriman (QS. Al Baqarah:183). Hanya orang
yang percaya pada Allah yang benar-benar bersedia menjalankan puasa.
Kepercayaan pada Allah itulah yang menyebabkan orang berpuasa akan merasakan
dirinya selalu diawasi oleh Allah, Zat yang Maha Mengetahui, di mana pun, kapan
pun dan dalam keadaan apa pun.
Keadaan
ini akan melahirkan kesadaran tentang Allah sebagai yang Maha Hadir (Omnipresent)
sehingga Maha Mengetahui segala sesuatau yang dilakukan oleh manusia (QS.
Al-Hadid:4). Hal ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa dirinya tidak akan
mampu terlepas dari pengawasan Allah. Dirinya juga tidak akan mampu melepaskan
tanggung jawab atas apa yang saja yang telah ia lakukan. Kesadaran ini akan
melahirkan rasa takut (khouf) pada Allah. Rasa takut pada Allah akan
mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. Rasa
takut akan menyebabkannya untuk tidak menyimpang dari rel kebenaran.
Dalam
keadaan tertentu, rasa takut ini akan berbenturan dengan keinginan –keinginan
manusia yang sering kali tidak sesuai kebenaran. Maka, diperlukan kemampuan
bertahan dengan cara melakukan pengendalian diri. Pengendalian diri merupakan
faktor yang sangat penting ketika menghadapi keinginan-keinginan yang
menggiurkan, tetapi melanggar nilai-nilai kebenaran.
Berkaitan
dengan hal itu, puasa adalah ibadah yang penuh dengan upaya pengendalian diri.
Dilarangnya maan, minum dan hubungan seksual pada siang hari adalah latihan
kemampuan pengendalian diri. Apalagi dalam ajang latihan pengendalian itu hanya
ada dua subyek, manusia dan Allah. Semua akan tergantung pada kemampuan untuk
mengendalikan diri melawan keingin-keinginanyang muncul dalam diri manusia itu
sendiri.
Dengan
demikian, paling tidak ada dua hal yang bisa didapatkan dari puasa. Pertama,
adalah kesadaran akan kemahadiran dan kemahatahuan Allah yang menyebabkan
rasa takut dan enggan berbuat kesalahan. Kedua, kemampuan untuk
mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang muncul dari dalam diri sendiri.
Pengawasan
Ilahiah
Semagat
puasa dia atas membawa pengaruh yang besar apabila dibawa serta dalam kehidupan
sehari. Kalau berpuasa bulan Ramadhan ibaratnya adalah latihan, maka kehidupan
keseharian diluar bulan itu adalah pertempuran yang sesungguhnya. Pertempuran
diri sendiri melawan desakan hawa nafsu. Rosulullah mengingatkan bahwa
pertempuran ini justru lebih berat diabanding perang fisikmelawan orang kafir.
Karenanya
beliau menyebutkan sebagai perang besar (jihad akbar).
pada
pertempuran yang sesungguhnya inilah akan teruji, apakah semangat puasa
seseorang benar-benar terinternalisasi dalam dirinya ataukah justru hilang tak
berbekas. Bagi yang berhasil “menagkap” semagat itu, maka, moralitas dan
perilakunya akan berubah semakin sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Hal ini
terjadi karena kesadaran akan kehadiran dan kemahatahuan Allah.
“
Tuhan ada disin, didalam jiwa ini,” demikian syair lagu Ebiet G Ade. Tuhan
selalu hadir dan dekat tanpa peduli apakah seseorang berada dimasjid, di
kantor, dipasar, atau dirumah. Apakah itu sedang bedagang, bekerja, dikantor,
ataukah bertugas diluar kota.
Apakah
ia seorang pedagang, karyawan kantor, menteri atau bahkan presiden.
Kesadaran
sebagaimana di atas yang dilengkapi dengan keterbiasaan mengendalikan diri,
akan mampu menjadi kekuatan internal Maha dahsyat yang akan menghindarkan dari perbuatan
kotor seperti korupsi dan kolusi. Kesadaran semacam itu berfungsi sebagai
pengawasan internal yang sekaligus bersifat ilahiah, karena pada akhirnya dia
sendirilah yang akan memutuskan apa yang ia lakukan.
Yang
menjadi persoalan adalah tidak semua orang yang menjalankan puasa bisa
mendapatkan kesadaran demikian.
Kesadaran
itu hanya bisa diraih ketika seseorang mampu menangkap hakikat puasa yang
sesungguhnya, dibarengi dengan keseriusan dalam menjalankannya. Kalau tidak,
maka seperti disinyalir oleh Rosulullah. “Kebanyakan orang yang berpuasa tidak
mendapatkan apa-apa, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga.”
Tidak
lebih dari itu.